Usiaku semakin tua..
Usiaku semakin senja..
Ajalku semakin dekat..
Malaikat maut kan menjemput..
-Hawari
Senin, 28 November 2011
Minggu, 27 November 2011
Sabtu, 26 November 2011
song list yasin-sohibi live ahad 27/11/11
1. insya Allah - maher zain
2. muhasabah cinta- edcoustic
3. idolakan Tuhan-hawari
4. permaisuri hati - the fikr
5. rumahku syurgaku-tazakka
6. do'a kalbu-fika
7. menjadi diriku-edcoustic
8. pertengkaran kecil-edcoustic
9. sepanjang hidup-maher zain
10. kerlipan cinta-rabbani
11. keimanan-haris
12.mutiara hati-sakha
13.duhai pendampingku-edcoustic
14.himah hidup-star 5
15.pergi tak kembali-rabbani
16. nantikanku di batas waktu-edcoustic
2. muhasabah cinta- edcoustic
3. idolakan Tuhan-hawari
4. permaisuri hati - the fikr
5. rumahku syurgaku-tazakka
6. do'a kalbu-fika
7. menjadi diriku-edcoustic
8. pertengkaran kecil-edcoustic
9. sepanjang hidup-maher zain
10. kerlipan cinta-rabbani
11. keimanan-haris
12.mutiara hati-sakha
13.duhai pendampingku-edcoustic
14.himah hidup-star 5
15.pergi tak kembali-rabbani
16. nantikanku di batas waktu-edcoustic
Kamis, 24 November 2011
Aku senang memikirkanmu
Aku tidak bisa meletakkan kata demi kata sehebat Tuhan menempatkan bintang demi bintang, tetapi kaulah langitku, dan aku ingin terbang. Aku tidak bisa menghitung besarnya cinta sejeli Tuhan tahu berapa banyak pasir di laut, tetapi kaulah lautku, dan aku ingin tenggelam. Aku rela menyingkirkan segala pinta kedaginganku, selagi kau duduk di sampingku dan kepada hatiku kau bercerita tentang hidupmu. Sebab semenjak ada kau dalam hidupku, degup jantung seakan berubah menjadi denting piano. Aku ingin bernyanyi, melantunkan nyanyian syukur atas hadirmu.
Sayang, kau tahu apa yang ada di pikiranku? Banyak. Namun di dalam kepalaku kau bagai raksasa yang manis, yang sampai segala masalah dan kepahitan tampak begitu kecil. Aku senang memikirkanmu. Senang sekali.
Sayang, kau tahu apa yang ada di pikiranku? Banyak. Namun di dalam kepalaku kau bagai raksasa yang manis, yang sampai segala masalah dan kepahitan tampak begitu kecil. Aku senang memikirkanmu. Senang sekali.
dedaun rindu
dan aku dedaun yang menghibakan langit akan hujan
gersang nafasku menghembus rindu
yang terserak di merah tanah
menanti angin menghembusnya ke ujung parau
saat perahu-perahu mulai beranjak meninggalkan dermaga
dan langit mulai digulung gelap..
gersang nafasku menghembus rindu
yang terserak di merah tanah
menanti angin menghembusnya ke ujung parau
saat perahu-perahu mulai beranjak meninggalkan dermaga
dan langit mulai digulung gelap..
Tentangmu
Memandangmu itu seperti melihat taman setelah reda hujan
dg percik air yg masih membasahi daun dan rumput,menyejukkan..
Seperti nada hujan yg tak deras pula suaramu,
memacu berirama merdu saat butir demi butir nya mengetuk tanah dan atap,
melenakkan..
Maka membersamaimu laksana lukisan malam,
dengan bulan dan bebintang yg menghias langit,
indah menentramkan..
dg percik air yg masih membasahi daun dan rumput,menyejukkan..
Seperti nada hujan yg tak deras pula suaramu,
memacu berirama merdu saat butir demi butir nya mengetuk tanah dan atap,
melenakkan..
Maka membersamaimu laksana lukisan malam,
dengan bulan dan bebintang yg menghias langit,
indah menentramkan..
keranda kenang
dari timur, sunyi yang memandu kenang telah sampai
pada surau yang berhias tentram.
hanya sebatas bulan semua gundah kan bersayap,
terbang..
pada surau yang berhias tentram.
hanya sebatas bulan semua gundah kan bersayap,
terbang..
Selasa, 15 November 2011
Selamat..
menghitam, genang air sungai
wajah pun hilang cahaya, padahal pelita disekitar
sendiri di lorong gelap di bawah tanah
padahal di atas ramai riuh para pengelana
hendak kemana kaki melangkah?
sementara pijar langit semakin menjauh
mungkin hendak diremukkan tubuh oleh bumi
hingga hancur belulang dan wajah seram
belum terlambat...
masih terlihat pijar bintang di kelam malam
ada cahaya menelisik di sela gelap
ikutilah,datangilah
terbuka matamu takjub melihat kemegahan warna
pada rimbun pohon dan hangat cakrawala
disanalah seharusnya berada, pada tanah,sungai dan langit cahaya
selamat...
wajah pun hilang cahaya, padahal pelita disekitar
sendiri di lorong gelap di bawah tanah
padahal di atas ramai riuh para pengelana
hendak kemana kaki melangkah?
sementara pijar langit semakin menjauh
mungkin hendak diremukkan tubuh oleh bumi
hingga hancur belulang dan wajah seram
belum terlambat...
masih terlihat pijar bintang di kelam malam
ada cahaya menelisik di sela gelap
ikutilah,datangilah
terbuka matamu takjub melihat kemegahan warna
pada rimbun pohon dan hangat cakrawala
disanalah seharusnya berada, pada tanah,sungai dan langit cahaya
selamat...
di pagi ini
memulai pagi dalam muram
wajah ditekuk mendung pun rintik hujan membasahi wajah
kemana gerangan lengkung senyum dan matahari?
wajah ditekuk mendung pun rintik hujan membasahi wajah
kemana gerangan lengkung senyum dan matahari?
siapa?
siapa aku di gelap ini?
hujan,angin,mendung dan awan telah sempurna membawa kelam
sendiri menatap tanah dan langit dalam sama warna : hitam
nanar pandang,sesekali terpejam
mengapa aku di sepi ini?
hujan,angin,mendung dan awan telah sempurna membawa kelam
sendiri menatap tanah dan langit dalam sama warna : hitam
nanar pandang,sesekali terpejam
mengapa aku di sepi ini?
Kamis, 10 November 2011
haiku..
didekap ragu
lelah semua palsu
mesti berlalu..
rencana pergi
entah kapan tak pasti
mesti terhenti
selamat tinggal
nanti terucap yakin
hati yang lapang
lelah semua palsu
mesti berlalu..
rencana pergi
entah kapan tak pasti
mesti terhenti
selamat tinggal
nanti terucap yakin
hati yang lapang
Senin, 07 November 2011
di tepi sepi
menggurat sepi, tergaris pada pasir yang lautnya tenang
langitnya biru,anginnya membelai.
sendiri,seperti tak berpenghuni bumi
hanya suara yang tak nampak wujud kudengar
entah dibalik tebing,awan atau ombak.
dan aku disini saja di ujung tebing memandang laut
memandang gelombang,menyimak debur
sementara dalam kepala tak kalah ramai
berbicara sendiri,entah apa...
langitnya biru,anginnya membelai.
sendiri,seperti tak berpenghuni bumi
hanya suara yang tak nampak wujud kudengar
entah dibalik tebing,awan atau ombak.
dan aku disini saja di ujung tebing memandang laut
memandang gelombang,menyimak debur
sementara dalam kepala tak kalah ramai
berbicara sendiri,entah apa...
Langganan:
Komentar (Atom)




